
BIRO ADPIM – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H. Zainal A Paliwang, S.H., M.Hum., meminta Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus memperkuat peran perempuan dalam menjadi garda terdepan dalam mendidik generasi muda.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Zainal dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU, dan Rapat Konsolidasi Muslimat NU se-Provinsi Kalimantan Utara, di Kota Tarakan, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur (Jatim) sekaligus Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Dr. (H.C) Hj, Khofifah Indar Parawansa, M.Si. Kehadiran Gubernur Khofifah menjadi bagian penting dalam momentum konsolidasi organisasi perempuan NU di Kaltara.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, dinilai relevan dengan tantangan zaman sekaligus semakin menegaskan posisi perempuan sebagai bagian penting dalam membangun keluarga dan masyarakat.
Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah ke-80 Muslimat NU, menurut Gubernur Zainal, memiliki makna penting untuk memperkuat pengabdian kepada umat sekaligus meneguhkan kembali peran strategis perempuan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Lebih dari itu, maulid harus menjadi momentum untuk kembali bercermin kepada akhlak Rasulullah SAW,” ujar Gubernur.
Gubernur Zainal menegaskan pentingnya peran Muslimat NU dalam mendukung pembangunan di Kaltara. Perempuan dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun keluarga yang kuat, membentuk karakter generasi, dan menciptakan kemandirian masyarakat.
Khusus di Kaltara, peran tersebut dinilai semakin penting mengingat wilayah ini memiliki kawasan perbatasan dan pedalaman dengan tantangan pembangunan yang beragam.
Di tengah derasnya arus informasi, ia juga menitipkan pesan agar Muslimat NU terus mengambil peran dalam mendidik generasi muda, menjauhkan anak-anak dari bahaya narkoba, serta bersinergi dengan pemerintah dalam upaya menekankan angka stunting.
“Delapan puluh tahun perjalanan Muslimat NU juga merupakan momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran perempuan dalam meneguhkan kembali peran perempuan dalam kehidupan umat dan bangsa,” tambahnya. (mel/adpim)