
BIRO ADPIM – Wakil Gubernur Kalimantan Utara Ingkong Ala, S.E., M.Si bertindak sebagai Inspektur Upacara pada peringatan Hari Lahir Pancasila dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 yang digelar di Lapangan Agathis Tanjung Selor, Bulungan, Senin (8/6/2026).
Upacara diikuti oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kaltara, pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat administrator dan pengawas, pejabat fungsional, serta Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Non ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara.
Dalam kesempatan itu, Wagub Ingkong Ala membacarakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI), Yudian Wahyudi.
Tema yang diusung dalam peringatan Hari Lahir Pancasila adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan Bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi.
“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman. Pancasila adalah jangkar moral dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” ujar Wagub saat membacakan amanat.
Dikatakannya lebih lanjut, Pancasila adalah fondasi dari kebijakan luar negeri bebas aktif. Nilai musyawarah dan mufakat yang dianut adalah instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik.
Selain memperingati Hari Lahir Pancasila, upacara tersebut juga dirangkaikan dengan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2026 “Act Now For Climate”.
Wagub Ingkong membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup. Dalam sambutannya, mengatakan bahwa isu lingkungan hidup menjadi isu krusial bagi kelangsungan generasi mendatang.
“Dunia saat ini sedang menghadapi triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan pencemaran. Ketiga krisis ini saling berkaitan dan mengancam stabilitas ekologi, ekonomi dan sosial global. Isu lingkungan hidup menjadi isu krusial bagi kelangsungan generasi mendatang,” ujar Wagub.
Ia menambahkan, sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Lebih dari 60 persen penduduk tinggal di wilayah pesisir yang berisiko kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem dan gangguan ketahanan pangan. Lebih dari 90 persen bencana di Indonesia bersifat hidrometelorologis seperti banjir, longsor dan kekeringan.
“Penanganan sampah tidak boleh hanya bertumpu pada pendekatan hilir, kita harus mengubah paradigma tata kelola sampah secara menyeluruh. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat di seluruh Indonesia untuk melakukan Gerakan Pemilahan Sampah dari Rumah Tangga untuk Indonesia Asri,” tambahnya. (BIROADPIM)