
BIRO ADPIM – Di bawah naungan atap Balai Adat Desa Long Nawang, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Malinau yang dindingnya penuh ukiran pilin geometris khas Dayak yang rumit namun gagah, batas negara seolah menguap. Suasana Rabu malam (25/3/2026) itu bukan lagi sekat administratif negara tetapi perayaan akar rumput yang satu: satu rumpun, satu budaya, satu hati.
Ini adalah malam ramah tamah. Puncak dari rangkaian Rapat Koordinasi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Kabupaten Malinau, dan delegasi tingkat tinggi dari Sarawak, Malaysia.
Hawa dingin khas pedalaman Apau Kayan segera terusir oleh kehangatan sambutan. Saat rombongan Timbalan (Wakil) Menteri Digital Sarawak, Datuk Wilson Uga Anak Kumbong, memasuki ruangan, musik petikan Sape yang magis mengalun, mengantar para penari.
Di tengah gelanggang, dua penari muda Dayak bergerak gemulai. Bulu-bulu burung enggang di hiasan kepala mereka berayun seirama dengan kipas bulu di tangan yang mengembang, seolah menyapa angin. Gerakan mereka tak hanya menyuguhkan estetika, tapi adalah simbol kehormatan bagi para tamu. Batik bermotif Dayak dengan warna merah menyala yang dikenakan Wagub Kaltara, Ingkong Ala, tampak serasi dengan kain tenun warna-warni para penari, menciptakan harmoni visual yang memukau mata.
Namun, momen paling berkesan bukanlah saat tarian disuguhkan, melainkan saat tarian itu meruntuhkan sekat birokrasi.
Dengan senyum lebar yang tak lepas dari wajahnya, Wakil Wagub Ingkong Ala berdiri. Di bahunya tersemat rompi anyaman dengan ornamen taring hewan, dan di kepalanya bertengger topi adat berhias bulu tinggi. Ia tak lagi tampak sebagai pejabat kaku, melainkan sebagai putra daerah yang bangga. Tangan Ingkong Ala merentang, mengajak para tamu lintas negara untuk larut dalam gerak sebuah tarian persaudaraan.
Musik semakin rancak. Tidak mau ketinggalan, Datin Lita, istri dari Datuk Wilson Uga, menunjukkan kedekatan kultural yang luar biasa. Ia berganti pakaian, mengenakan busana adat lengkap dengan ikat pinggang manik-manik yang berat dan rok tenun panjang. Sambil memegang kipas bulu enggang, Datin Lita menari dengan luwes, sebuah gestur penghormatan yang mendalam bagi tuan rumah Indonesia.
Suasana malam itu benar-benar menjadi ajang ‘peluluhan’ batas formal. Duduk berdampingan di barisan depan, Wagub Ingkong Ala dan Wakil Bupati Malinau, Jakaria, tampak bercengkerama akrab dengan Datuk Wilson Uga. Saling lempar senyum dan tawa ringan menjadi bahasa diplomasi yang paling efektif malam itu, jauh lebih cair daripada sesi rapat formal di siang hari.
Diplomasi budaya ini kemudian dikunci dengan tradisi saling memberi hormat melalui pertukaran cenderamata.
Wagub Kaltara Ingkong Ala dengan bangga menyerahkan sebuah plakat emas berukir lambang Pemprov Kaltara kepada Datuk Wilson Uga. Di sisi lain, persaudaraan diwujudkan dalam bentuk benda pusaka. Wakil Bupati Malinau menyerahkan Mandau dalam bingkai kaca kepada Datuk Wilson sebagai simbol kekuatan dan perlindungan.
Malam itu ditutup dengan foto bersama. Semua pejabat, baik dari Indonesia maupun Malaysia, berpose dengan senyum paling tulus. Tidak ada lagi jarak. Melalui tari, musik, dan tawa, malam ramah tamah di Long Nawang telah menanamkan fondasi persaudaraan yang jauh lebih kuat dia negeri serumpun. BIRO ADPIM