Jejak perjalanan Wagub Ingkong Ala ke perbatasan (6-habis)

EDITORIAL BIRO ADPIM
NUNUKAN – Ada yang unik dari pola pendidikan di SMA Negeri 1 Sei Menggaris. Jaraknya yang hanya “sejengkal” dan bertetangga langsung dengan Pos Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonkav 13/SL, membentuk karakter kedisiplinan yang kuat.
Jauh sebelum konsep barak militer yang sempat ramai dibicarakan dan diterapkan di Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM, SMAN 1 Sei Menggaris sudah menerapkannya. Setiap tahun, murid hingga guru mengikuti “karantina” bersama tentara.
Hasilnya? Sekolah ini menjadi laboratorium toleransi yang hidup. Di tengah keberagaman suku dan agama, siswa-siswinya tumbuh menjadi pribadi yang analitis dan berjiwa pemimpin.
Mendengar aspirasi dari Guru Bagian Kesiswaan, Suparman, dan perwakilan siswa, Ahmad Faril, yang berharap adanya kepastian status bagi guru honorer, Wagub Ingkong Ala memberikan angin segar.
“Untuk status guru, ke depan honorer pasti akan diprioritaskan dalam penerimaan PNS atau PPPK. Jangan minder, meski kalian di perbatasan, kualitas kalian sudah terbukti,” tegas Wagub memotivasi para siswa.
Wagub juga mencatat beberapa poin krusial untuk segera ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi. Antara lain akan diperjuangkannya kebutuhan mebelair, laboratorium, perpustakaan, dan sanitasi akan dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan.
Termasuk komitmen Wagub memprioritaskan pengadaan bus sekolah untuk memudahkan akses siswa yang jarak rumahnya jauh dari sekolah. Termasuk rencana pembangunan asrama guru dan asrama siswa bagi mereka yang tinggal jauh, serta penyediaan fasilitas olahraga untuk bakat anak muda.
“Saya lega melihat perkembangan hari ini dibanding tahun lalu. Tinggal menunggu waktu peresmiannya saja,” kata Ingkong Ala dengan nada optimis.
Kunjungan maraton ini ditutup dengan pesan mendalam tentang persatuan. Wagub menekankan bahwa kekuatan terbesar Indonesia di perbatasan bukan hanya senjata, melainkan toleransi dan kekompakan warga. Jika rakyat solid, pihak asing tak akan mudah mengganggu kedaulatan NKRI.
Perjalanan dari Tanjung Selor, melewati rimbunnya sawit di Malinau, mendaki terjalnya Gunung Menangis, hingga berakhir di Balai Adat dan sekolah di Sei Menggaris, adalah gambaran bahwa di ujung peta sekalipun, kehadiran negara dan komitmen pemimpin adalah harapan yang menghidupkan mimpi anak-anak perbatasan. (selesai)