Berita

Membangun harga diri di garis batas: Kisah kades dan sekolah di atas tanah wakaf

Jejak perjalanan Wagub Ingkong Ala ke perbatasan (5)

EDITORIAL BIRO ADPIM

NUNUKAN – Senin pagi (19/1/2026), suasana di Desa Sekaduyan Taka, Kecamatan Sei Menggaris, terasa berbeda. Wakil Gubernur Kaltara Ingkong Ala, SE.,M.Si, dan rombongan yang sedianya tiba Minggu (18/1/2026) sore namun tertunda karena padatnya agenda, akhirnya berdiri di tengah-tengah keluarga besar SMA Negeri 1 Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan.

Ada getaran emosional saat Wagub menatap gedung sekolah baru yang kini berdiri tegak dengan arsitektur modern yang tetap mengusung nuansa lokal. Gedung ini tampak kokoh dengan perpaduan warna abu-abu gelap, putih, dan aksen merah yang tegas.

Di beberapa sudut fasad bangunan, terlihat ornamen cutting berwarna kuning cerah dengan motif khas Dayak yang menambah estetika sekaligus identitas budaya pada bangunan sekolah tersebut.

Kehadiran gedung ini adalah jawaban atas penantian panjang melalui anggaran yang signifikan. Berdasarkan papan Surat Perintah Kerja (SPK) dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltara tercatat dua paket pekerjaan besar di lokasi ini:

Pertama, pembangunan ruang guru dengan nilai kontrak sebesar Rp1.336.003.000. Lalu, pembangunan ruang kelas baru (RKB) dengan nilai kontrak sebesar Rp1.198.177.000. Kedua proyek tersebut dikerjakan oleh kontraktor CV Putra Ali Hakim dengan jangka waktu masing-masing 144 hari kalender pada tahun anggaran 2025 kemarin.

Di balik megahnya sekolah ini, terselip kisah heroik seorang Putra Sinar Jaya, Kepala Desa Sekaduyan Taka. “Saya pernah disebut kepala desa bodoh, kepala desa gila karena nekat membangun sekolah secara swadaya,” kenang Putra Sinar Jaya di depan Wagub.

Baginya, pendidikan di perbatasan adalah harga diri bangsa. Ia mewakafkan tanah pribadinya agar tak ada lagi anak perbatasan yang terlantar.

Ketulusannya berbuah manis. Saat Wagub meninjau bagian dalam kelas, tampak ruangan yang sudah sangat layak dengan plafon putih bersih, pencahayaan yang cukup, dan lantai keramik yang mengkilap.

Di dalam kelas tersebut, Wagub berdiskusi dengan jajaran guru guna memetakan kebutuhan mebelair dan alat penunjang belajar lainnya agar gedung baru ini bisa segera dioptimalkan.

Kedatangan Wagub juga disambut hangat oleh para siswa. Dalam suasana penuh kekeluargaan, Wagub tampak menyalami satu per satu barisan siswi yang mengenakan seragam putih abu-abu.

Binar mata penuh harap terpancar dari wajah para remaja perbatasan ini. Meski berada di wilayah terdepan Indonesia, semangat mereka untuk menuntut ilmu di gedung baru ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak boleh terhalang oleh garis koordinat.

Wagub Ingkong Ala tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. “Inisiatif melalui pengorbanan yang dilakukan Pak Kades ini luar biasa. Ini adalah tanggung jawab menjaga identitas bangsa kita di mata tetangga,” ujar Wagub seraya memastikan pemerintah provinsi akan terus mengawal kelengkapan fasilitas di sekolah kebanggaan warga Sei Menggaris ini. (bersambung)