Jejak perjalanan Wagub Ingkong Ala ke perbatasan (4)

EDITORIAL BIRO ADPIM
NUNUKAN – Perjalanan panjang yang bermula dari Malinau pada pukul 14.00 WITA akhirnya mencapai puncaknya di ujung utara. Setelah sempat menjeda waktu di elevasi ‘Gunung Menangis’, rombongan Wakil Gubernur Kalimantan Utara Ingkong Ala, SE.,M.Si, tiba di Desa Sekaduyan Taka, Kecamatan Sei Menggaris, tepat matahari terbenam dari peraduannya, Minggu (18/1/2026).
Pukul 18.00 WITA, keheningan petang di desa perbatasan itu pecah oleh antusiasme warga. Di depan Balai Adat Desa Sekaduyan Taka, prosesi penyambutan adat Dayak Kenyah telah menanti. Ingkong Ala, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Adat Dayak (LAD) Kenyah Provinsi Kaltara, disambut dengan ritual penghormatan sebelum melangkah masuk ke tengah balai yang telah dipenuhi warga.
Alunan musik petikan Sape dan hentakan kaki penari muda-mudi setempat menjadi pembuka yang hangat. Kunjungan kerja Wagub ini juga membawa misi penguatan struktural melalui Rapat Kerja (Raker) Pengurus LAD Kenyah Kabupaten Nunukan.
Kenangan 1985
Dalam sambutannya, Ingkong Ala sempat membawa hadirin ke lorong waktu tahun 1985. Dengan nada nostalgia, ia mengisahkan perjuangannya saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA.
“Waktu itu saya naik kapal kayu ke Nunukan. Karena penumpang sangat padat, saya harus duduk di atas dek kapal. Sampai di Nunukan jam 6 pagi tanpa tidur sama sekali,” kenangnya disambut senyum para tokoh adat dan warga.
Refleksi masa lalu ini digunakannya untuk menekankan betapa pentingnya kekompakan dan informasi di era sekarang yang sudah jauh lebih maju. Baginya, organisasi adat bukan hanya wadah seremonial, melainkan instrumen “pelayanan”.
“Mengurus paguyuban itu bukan soal mencari pendapatan, justru seringkali menjadi pos pengeluaran. Namun, tugas utama kita adalah melayani aspirasi, memperjuangkan hak masyarakat, dan memberi solusi bagi warga yang membutuhkan, misalnya saat ada yang sakit,” tegasnya.
Menjaga kedaulatan dalam keberagaman
Di hadapan pengurus LAD Kenyah Nunukan, Wagub menekankan bahwa kekuatan Dayak Kenyah harus menjadi bagian integral dari kemajuan Bangsa Indonesia. Ia berpesan agar warga tidak eksklusif, melainkan harus mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan suku dan agama apa pun di Kaltara.
“Perkuat persatuan agar solid dan harmonis. Kita harus membangun kekuatan dengan hidup berdampingan bersama saudara-saudara suku bangsa lain. Itulah wujud nyata berdaulat, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” pesannya.
Ia juga mendorong agar budaya unik Dayak Kenyah terus dipelihara melalui berbagai event kebudayaan agar tidak lekang dimakan zaman dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Musyawarah
Kesederhanaan terpancar usai prosesi penyambutan. Wagub dan rombongan berbaur dengan warga untuk makan bersama di kediaman tokoh adat setempat yang berada tepat di depan balai adat. Suasana kekeluargaan ini menjadi energi tambahan bagi Wagub sebelum melanjutkan agenda utama.
Rapat Kerja yang dimulai usai santap malam itu berlangsung khidmat namun produktif. Berbagai poin strategis dibahas hingga jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WITA. Di bawah naungan atap Balai Adat Sekaduyan Taka, koordinasi diperkuat, visi disamakan, demi memastikan masyarakat Dayak Kenyah di perbatasan tetap menjadi pilar stabilitas dan pembangunan di Kalimantan Utara.
Malam itu, di Sei Menggaris, lelah perjalanan ratusan kilometer terbayar tuntas dengan semangat persaudaraan yang mengakar kuat. Tugas di perbatasan belum usai, namun pondasi persatuan telah kokoh dipancang. (bersambung)