Berita

Miliki 23 persen mangrove dunia, Menhut dan Gubernur ajak masyarakat rawat lahan basah

BIRO ADPIM – Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni menekankan pentingnya kolaborasi antara riset modern dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem lahan basah saat menghadiri peringatan Hari Lahan Basah Sedunia di Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), Jumat (6/2/2026).

Peringatan yang dipusatkan di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan itu juga dihadiri Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH., M.Hum., beserta jajaran pemangku kepentingan kehutanan dan mitra internasional.

“Riset modern telah membuktikan banyak kemajuan. Namun, sumber tradisional tetaplah aspek krusial yang harus kita akui dan rayakan sebagai bagian integral dari khazanah ilmu pengetahuan,” ujar Menhut dalam sambutannya di KKMB Tarakan.

Ia memaparkan bahwa Indonesia memegang peran vital dalam iklim global karena memiliki 23 persen dari total hutan mangrove dunia. Menurutnya, anugerah lahan basah yang luas tersebut merupakan tanggung jawab besar yang harus dijaga melalui semangat gotong royong.

“Alhamdulillah kita diberikan Tuhan lahan basah yang sangat luas. Ini perlu kita jaga secara bersama, ringan sama dijinjing berat sama dipikul,” tambahnya.

Ia juga berharap KKMB Tarakan tidak hanya berfungsi sebagai destinasi ekowisata, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menegaskan bahwa keberadaan KKMB seluas 22 hektare merupakan aset vital bagi Kaltara, khususnya Kota Tarakan.

“Kawasan ini merupakan benteng alam di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Selain sebagai penyangga abrasi, KKMB memiliki fungsi vital sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati satwa endemik yang terancam punah, seperti Bekantan,” kata Zainal.

Ia mengapresiasi dukungan Kementerian Kehutanan dan mitra strategis lainnya dalam upaya pelestarian lingkungan. Ia berharap sinergi ini terus diperkuat untuk memastikan ekosistem mangrove tetap lestari bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kaltara, perwakilan UPT KPH se-Kaltara, Pertamina EP Tarakan, serta sejumlah mitra internasional seperti M4CR, Wetland, perwakilan Nasclim, dan GGGI.

Untuk diketahui, Provinsi Kaltara memiliki potensi mangrove yang sangat besar, dengan luas mencapai 326.396.37 hektare. Berdasarkan pola ruang, luasan tersebut terbagi atas hutan primer 47.664,58 hektare, hutan sekunder 124.099,22 hektare, nipah 5.984,09 hektare, dan tambak 148.648,49 hektare. BIRO ADPIM