Berita

Menatap surga hijau ‘Gunung Menangis’ di atap Negeri

*Jejak perjalanan Wagub Ingkong Ala ke perbatasan (3)

EDITORIAL BIRO ADPIM

NUNUKAN – Matahari tepat berada di atas kepala saat Wakil Gubernur Kalimantan Utara Ingkong Ala, SE., M.Si, menyudahi kunjungannya di Kabupaten Malinau.
Minggu (18/1/2026), tepat pukul 14.00 WITA, roda kendaraan rombongan kembali berputar, membelah jalur darat menuju Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan.

Perjalanan ini juga melainkan sebuah napak tilas pembangunan di beranda terdepan NKRI. Setelah menempuh jarak sekitar 199 kilometer dari Malinau Kota, rombongan tiba di sebuah titik legendaris yang dikenal masyarakat setempat dengan nama ‘Gunung Menangis’.

Tepat pukul 17.00 WITA, iring-iringan 10 unit kendaraan rombongan Wagub Ingkong Ala memutuskan sejenak menghentikan laju kendaraan. Di sini, di puncak elevasi yang menantang ini, lelah perjalanan panjang seketika menguap, berganti dengan decak kagum.

Jalur ‘Tangisan’ Menjadi Kebanggaan

Nama ‘Gunung Menangis’ bukan tanpa alasan. Dahulu, kawasan ini adalah momok bagi para pengendara. Kecuramannya yang ekstrem membuat mesin kendaraan menderu keras, seringkali menyerah di tengah tanjakan, atau membuat pengemudi waswas saat menuruni kemiringannya.

“Jelas jauh sekali perbedaan kondisi jalannya dibanding sewaktu saya masih muda, 36 tahun yang lalu,” kenang Ingkong Ala sembari memandang hamparan perbukitan hijau yang membentang luas.

Kini, tangisan itu telah berganti menjadi kenyamanan. Jalan nasional ini telah bersalin rupa dengan aspal mulus dan dinding penahan longsor yang kokoh di kedua sisinya. Transformasi ini merupakan buah manis dari program Nawacita Pemerintah Pusat yang mengalir deras ke Kalimantan Utara sejak periode 2015-2016.

Pembangunan infrastruktur di titik ini memang tidak main-main. Melalui dukungan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB), APBN telah dikucurkan untuk menjahit konektivitas dari Tanjung Selor hingga ke perbatasan Simanggaris. Mulai dari paket Tanjung Selor-Tanjung Palas hingga pengerjaan seksi Simpang 3 Apas-Simanggaris yang nilainya mencapai Rp1,2 triliun.

Jaga kedaulatan, lestarikan alam

Berdiri di ketinggian Gunung Menangis, rombongan disuguhi pemandangan spektakuler: hamparan perkebunan sawit yang tertata rapi bersanding dengan hutan tropis yang masih perawan. Baginya, keindahan ini adalah aset mahal bagi masa depan Kaltara.

“Kita harus menjaga hijaunya hutan di perbatasan ini demi anak cucu kita. Ini adalah surga di perbatasan Indonesia-Malaysia,” pesannya dengan nada serius.

Bagi Ingkong Ala, menjaga perbatasan tidak hanya terkait dengan infrastruktur jalan saja. Tapi juga kedaulatan lingkungan dan keamanan teritorial. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan agar wilayah Kaltara tidak kecolongan oleh praktik illegal logging maupun penyelundupan.

Secara khusus, Wagub memberikan apresiasi tinggi kepada Satgas Pamtas RI yang berjaga di sepanjang garis perbatasan. Kerja keras TNI dalam mengungkap peredaran narkotika dan perdagangan manusia menjadi benteng pertahanan sosial yang krusial bagi warga Kaltara.

Optimisme konektivitas

Keberhasilan pengaspalan jalur Tanjung Selor hingga Sei Menggaris menumbuhkan optimisme baru. Wagub meyakini bahwa langkah serupa akan segera menyentuh wilayah-wilayah perbatasan lainnya seperti Apo Kayan, Pujungan, Krayan, dan Lumbis.

“Pemerintah Pusat menseriusi konektivitas di wilayah-wilayah ini. Dengan bentang alam Kaltara yang sangat luas, pemerataan pembangunan adalah kunci utama agar masyarakat di pelosok merasakan kehadiran negara secara nyata,” tambahnya.

Senja mulai meredup di Gunung Menangis, menyisakan semburat jingga di langit perbatasan. Wagub dan rombongan kembali memasuki kendaraan, melanjutkan sisa perjalanan menuju Desa Sekaduyan Taka, Sei Menggaris dengan semangat yang masih menyala.

Perjalanan ini membuktikan, di balik curamnya tantangan alam, selalu ada jalan kemajuan jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh. (bersambung)