Berita

Malam di Balai Adat Udau Jalung: Mengukuhkan Malinau jadi jantung budaya

Jejak perjalanan Wagung Ingkong Ala ke perbatasan (2)

EDITORIAL BIRO ADPIM

MALINAU – Perjalanan maraton Wakil Gubernur Kalimantan Utara, Ingkong Ala, S.E., M.Si, berlanjut ke titik kedua. Setelah menempuh jalur darat dari Tana Tidung, rombongan tiba di Kabupaten Malinau saat senja mulai jatuh.

Pukul 19.00 WITA, suasana di Balai Adat Udau Jalung, Malinau Kota, telah benderang oleh cahaya lampu dan antusiasme warga yang menanti.

Kedatangan Wagub beserta istri, Kornie Serliany, ST, disambut dengan hangat warga setempat. Alunan musik tradisional Dayak Kenyah yang khas dan hentakan kaki para penari menyambut rombongan. Tarian penyambutan yang dibawakan dengan penuh energi ini seolah menegaskan identitas Malinau sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Dayak Kenyah yang paling terjaga di Kaltara.

Berbeda dengan suasana di Tana Tidung yang kental dengan isu dukungan infrastruktur, di Malinau Wagub lebih menekankan pada penguatan jati diri dan ketahanan budaya.

Dalam arahannya di depan pengurus LAD Kenyah Kabupaten Malinau, Ingkong Ala mengingatkan bahwa posisi Malinau sangat strategis dalam peta kebudayaan Kalimantan Utara. Ia meminta lembaga adat menjadi penjaga tradisi, serta mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.

“Saya minta LAD Kenyah Malinau menjadi pelopor menunjukkan bahwa adat dan modernitas bisa berjalan beriringan. Kita harus kuat secara organisasi agar bisa memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ingkong Ala.

Wagub juga menggarisbawahi pentingnya legalitas organisasi yang kini telah berbadan hukum melalui Kemenkumham. Baginya, profesionalisme organisasi adalah keharusan agar lembaga adat bisa berdiri sejajar dengan lembaga pemerintahan lainnya dalam merumuskan kebijakan.

Ia juga mendorong para pengurus untuk mulai memetakan potensi ekonomi berbasis kearifan lokal, seperti kerajinan tangan dan pengembangan situs budaya sebagai daya tarik wisata nasional.

Pertemuan malam itu berlangsung hangat dan interaktif. Meski jadwal perjalanan sangat padat, Ingkong Ala tampak tetap melayani dialog dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Kehadirannya di selain sekadar agenda birokrasi, juga momen penguatan ikatan emosional antara masyarakat.

Pesan moral tentang “Hidup adalah Kesempatan untuk Melayani” kembali digaungkan, mengajak seluruh warga Kenyah di Malinau untuk tetap solid dan tidak mudah terpecah belah, terutama dalam menghadapi dinamika sosial di masa depan. Termasuk menjaga toleransi dan persaudaraan antarsuku bangsa dan agama di Kalimantan Utara.

Pertemuan di Malinau Kota berakhir dengan penuh kekeluargaan. Namun, tugas belum usai. Usai menutup agenda di Balai Adat Udau Jalung, Wagub dan rombongan segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan estafet perjalanan menuju titik terakhir di utara Kaltara.

“Malam ini kita di Malinau, besok kita bergerak ke Kabupaten Nunukan. Kita pastikan bahwa setiap pengurus adat di perbatasan merasakan kehadiran pemerintah, lembaga adat, dan memiliki semangat yang sama untuk membangun masyarakat,” tutur Ingkong Ala. (bersambung)